Monday, March 30, 2020

KUMPULAN CERITA ANAK


KISAH TIMUN MAS (JAWA TENGAH)

Alkisah, di suatu  daerah di Jawa Tengah, hiduplah seorang janda yang bernama Mbok Srini. Ia hidup sebatang kara sejak suaminya meninggal beberapa tahun silam dan tidak mempunyai anak. Ia sangat mengharapkan keajaiban akan kehadiran seorang anak untuk mengisi kesepiannya. Untuk meraih harapan itu, siang malam ia selalu berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar diberi anak.
Pada suatu malam, ia bermimpi didatangi oleh sesosok makhluk raksasa yang menyuruhnya pergi ke hutan tempat yang biasanya ia mencari kayu bakar. Dalam mimpinya itu ia disuruh mengambil sebuah bungkusan di bawah sebuah pohon besar. Saat terbangun di pagi hari, Mbok Srini memikirkan tentang mimpinya semalam. “Mungkinkah keajaiban itu benar-benar terjadi padaku?” tanyanya dalam hati dengan ragu.
Dengan penuh harapan, ia bergegas menuju ke tempat yang ditunjuk oleh raksasa yang muncul dalam mimpinya. Setibanya di hutan, ia mencari bungkusan itu di bawah pohon besar. Mbok Srini kecewa karena ketika menemukan bungkusan yang dikiranya berisi seorang bayi, ternyata hanyalah sebutir biji timun.
“Apa maksud raksasa itu memberiku sebutir biji timun?” gumamnya dengan bingung.
Di tengah kebingungannya, tanpa ia sadari tiba-tiba sesosok makhluk raksasa berdiri di belakangnya sambil tertawa terbahak-bahak.
“Ha… ha… ha…!” demikian suara tawa raksasa itu. Mbok Srini pun tersentak kaget seraya membalikkan badannya. Ia sangat  terkejutnya karena raksasa itu adalah  yang hadir dalam mimpinya. Ia menjadi ketakutan.
“Ampun, Tuan Raksasa! Jangan memakanku! Aku masih ingin hidup,” pinta Mbok Srini dengan muka pucat.
“Jangan takut, hai perempuan tua! Aku tidak akan memakanmu. Bukankah kamu menginginkan seorang anak?” tanya raksasa itu.
“Be… benar, Tuan Raksasa!” jawab Mbok Srini dengan gugup.
“Kalau begitu, segera tanam biji timun itu! Kelak kamu akan mendapatkan seorang anak perempuan. Tapi, ingat! Kamu harus menyerahkan anak itu kepadaku saat ia sudah dewasa. Anak itu akan kujadikan santapanku,” ujar raksasa itu.
Karena begitu besar keinginannya untuk memiliki anak, tanpa sadar Mbok Srini menjawab, “Baiklah, Raksasa! Aku bersedia menyerahkan anak itu kepadamu.”
Begitu Mbok Srini selesai menyatakan kesediaannya, raksasa itu pun menghilang. Perempuan itu segera menanam biji timun di ladangnya. Dengan penuh harapan, setiap hari ia merawat tanaman itu dengan baik. Dua bulan kemudian, tanaman itu pun mulai berbuah. Anehnya, tanaman timun itu hanya berbuah satu. Semakin hari buah timun semakin besar melebihi buah timun pada umumnya. Warnanya pun sangat berbeda, yaitu berwarna kuning keemasan. Ketika buah timun masak, Mbok Srini memetiknya, lalu membawanya pulang ke gubuknya dengan susah payah kerana timun itu berat sekali.
Sesampainya di rumah ia membelah timun tersebut. Betapa terkejutnya ia karena  mendapati seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Saat ia akan menggendongnya, bayi itu tiba-tiba menangis.
“Oeek… oeek… Oeeeek !!!” demikian suara bayi itu. Alangkah bahagianya hati Mbok Srini mendengar suara tangisan bayi yang sudah lama dirindukannya. Ia pun memberi nama bayi itu Timun Mas.
“Cup… cup… cup..!!! Jangan menangis Timun Mas, sayangku!” hibur Mbok Srini.
Tak terasa, air mata bahagia mbok Srini menetes membasahi kedua pipinya yang sudah mulai keriput. Perasaan bahagia itu membuatnya lupa kepada janjinya bahwa dia akan menyerahkan bayi itu kepada raksasa suatu saat kelak.
Timun emas tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Ia dirawat dan dididik Mbok Srini  dengan penuh kasih sayang. Janda tua itu sangat bangga, karena selain cantik, putrinya juga memiliki kecerdasan yang luar biasa dan perangai yang baik.
Suatu malam, Mbok Srini bermimpi didatangi oleh raksasa yang dulu muncul dalam mimpinya. Raksasa itu berpesan kepadanya bahwa seminggu lagi ia akan datang menjemput Timun Mas. Sejak itu, Mbok Srini selalu duduk termenung seorang diri. Hatinya sedih, karena ia akan berpisah dengan anak yang sangat disayanginya. Ia baru menyadari bahwa raksasa itu ternyata jahat, karena Timun Mas akan dijadikan santapannya.
Melihat ibunya sering duduk termenung, Timun Mas pun bertanya-tanya dalam hati. Suatu sore, Timun Emas memberanikan diri untuk menanyakan kegundahan hati ibunya.
“Ibu, mengapa akhir-akhir ini Ibu selalu tampak sedih?” tanya Timun Mas.
Sebenarnya Mbok Srini tidak ingin menceritakan penyebab kegundahan hatinya, karena dia tidak ingin anak semata wayangnya itu ikut bersedih. Namun, karena Timun emas terus mendesak, akhirnya ia pun menceritakan perihal asal-usul Timun Mas yang selama ini ia rahasiakan.
“Maafkan Ibu, Anakku! Selama ini Ibu merahasiakan sesuatu kepadamu,” kata Mbok Srini dengan wajah sedih.
“Rahasia apa, Bu?” tanya Timun Mas penasaran.
“Ketahuilah, Timun Mas! Sebenarnya, kamu bukanlah anak kandung yang lahir dari rahim Ibu.” 
“Apa maksud, Ibu?” tanya Timun Mas.
Mbok Srini pun menceritakan semua rahasia asal usul Timun Mas hingga peristiwa mimpinya tentang sesosok raksasa yang akan datang menjemput anaknya untuk dijadikan santapan. Mendengar cerita itu, Timun Mas tersentak kaget seolah-olah tidak percaya.

“Aku tidak mau ikut bersama raksasa itu. Aku sangat sayang kepada Ibu yang telah mendidik dan membesarkanku,” kata Timun Mas. Mendengar perkataan Timun Mas, Mbok Srini kembali termenung. Ia bingung mencari cara agar anaknya selamat dari santapan raksasa itu.
Sampai pada hari yang telah dijanjikan oleh raksasa, Mbok Srini belum juga menemukan jalan keluar. Hatinya pun mulai cemas. Dalam kecemasannya, tiba-tiba ia menemukan sebuah akal. Ia menyuruh Timun Mas berpura-pura sakit. Dengan begitu, tentu raksasa itu tidak akan mau menyantapnya.
Saat matahari mulai senja, raksasa mendatangi gubuk Mbok Srini.
“Hai, Perempuan Tua! Mana anak itu? Aku akan membawanya sekarang,” pinta raksasa itu.
“Maaf, Tuan Raksasa! Anakku sedang sakit keras. Jika kamu menyantapnya sekarang, tentu dagingnya tidak enak. Bagaimana kalau tiga hari lagi kamu datang kemari? Saya akan menyembuhkan penyakitnya terlebih dahulu,” bujuk Mbok Srini mengulur-ulur waktu hingga ia menemukan cara agar Timur Mas bisa selamat.
“Baiklah, kalau begitu! Tapi, kamu harus berjanji akan menyerahkan anakmu padaku,” kata raksasa itu.
Setelah Mbok Srini berjanji, raksasa itu pun menghilang. Mbok Srini berpikir keras  mencari cara untuk menyelamatkan Timun Mas. Ia mencoba mencari jalan keluar dengan meminta bantuan kepada seorang pertapa yang tinggal di sebuah gunung.
“Anakku! Besok pagi-pagi sekali Ibu akan pergi ke gunung untuk menemui seorang pertapa. Dia adalah teman almarhum suami Ibu. Barangkali dia bisa membantu kita untuk menghentikan niat jahat raksasa itu,” ungkap Mbok Srini.
“Benar, Bu! Kita harus membinasakan raksasa itu. Timun tidak mau menjadi santapannya,” imbuh Timun Mas.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, berangkatlah Mbok Srini ke gunung itu. Sesampainya di sana, ia langsung menemui pertapa itu dan menyampaikan maksud kedatangannya.
“Maaf, Tuan Pertapa! Maksud kedatangan saya kemari ingin meminta bantuan kepada Tuan,” kata Mbok Srini.
“Apa yang bisa kubantu, Mbok Srini?” tanya pertapa itu.
Mbok Srini pun menceritakan masalah yang sedang dihadapinya. Mendengar cerita Mbok Srini, pertapa itu bersedia membantu.
“Baiklah, kamu tunggu di sini sebentar!” seru pertapa itu seraya berjalan masuk ke dalam ruang rahasianya.
Tak berapa lama, pertapa itu kembali sambil membawa empat buah bungkusan kecil, lalu menyerahkannya kepada Mbok Srini.
“Berikanlah bungkusan ini kepada anakmu. Keempat bungkusan ini masing-masing berisi biji timun, jarum, garam dan terasi. Jika raksasa itu mengejarnya, suruh anakmu menyebarkan isi bungkusan ini!” jelas pertapa itu.
Mbok Srini pulang membawa keempat bungkusan tersebut. Setiba di gubuknya, Mbok Srini menyerahkan keempat bungkusan itu dan menjelaskan kepada Timun Mas apa yang harus dilakukannya. Hati Mbok Srini mulai agak tenang, karena anaknya sudah mempunyai senjata untuk melawan raksasa itu.
Dua hari kemudian, Raksasa itu pun datang untuk menagih janjinya kepada Mbok Srini. Ia sudah tidak sabar lagi ingin membawa dan menyantap daging Timun Mas.
“Hai, perempuan tua! Kali ini kamu harus menepati janjimu. Jika tidak, kamu juga akan kujadikan santapanku!” ancam raksasa itu.
Mbok Srini tidak takut lagi menghadapi ancaman itu. Dengan tenang, ia memanggil Timun Mas agar keluar dari dalam gubuk. Tak berapa lama, Timun Emas pun keluar lalu berdiri di samping ibunya.
“Jangan takut, Anakku! Jika raksasa itu akan menangkapmu, segera lari dan ikuti petunjuk yang telah kusampaikan kepadamu,” Mbok Srini membisik Timun Mas.
“Baik, Bu!” jawab Timun Mas.
Melihat Timun Mas yang benar-benar sudah dewasa, rakasasa itu semakin tidak sabar ingin segera menyantapnya. Ketika ia hendak menangkapnya, Timun Mas berlari sekencang-kencangnya. Raksasa itu pun mengejarnya. Tak ayal lagi, terjadilah kejar-kerajaan antara makhluk raksasa itu dengan Timun Mas. Setelah berlari jauh, Timun Mas mulai kecapaian, sementara raksasa itu semakin mendekat. Akhirnya, ia pun mengeluarkan bungkusan pemberian pertapa itu.
Pertama-tama Timun Mas menebar biji timun yang diberikan oleh ibunya. Sungguh ajaib, hutan di sekelilingnya tiba-tiba berubah menjadi ladang timun. Dalam sekejap, batang timun tersebut menjalar dan melilit seluruh tubuh raksasa itu. Namun, raksasa itu mampu melepaskan diri dan kembali mengejar Timun Mas.
Timun Emas lalu melemparkan bungkusan yang berisi jarum. Dalam sekejap, jarum-jarum tersebut berubah menjadi rerumbunan pohon bambu yang tinggi dan runcing. Namun, raksasa itu mampu melewatinya dan terus mengejar Timun Mas, walaupun kakinya berdarah-darah karena tertusuk bambu tersebut.
Melihat usahanya belum berhasil, Timun Mas membuka bungkusan ketiga yang berisi garam lalu menebarkannya. Seketika itu, hutan yang telah dilewatinya tiba-tiba berubah menjadi lautan luas dan dalam, namun raksasa itu tetap berhasil melaluinya dengan mudah.
Timun Emas mulai cemas, karena senjatanya hanya tersisa satu. Jika senjata tersebut tidak berhasil melumpuhkan raksasa itu, maka tamatlah riwayatnya. Dengan penuh keyakinan, ia pun melemparkan bungkusan terakhir yang berisi terasi. Tempat jatuhnya terasi itu tiba-tiba menjelma menjadi lautan lumpur yang mendidih. Alhasil, raksasa itu pun tercebur ke dalamnya dan tewas seketika. Maka selamatlah Timun Emas dari kejaran dan santapan raksasa itu.
Dengan sekuat tenaga, Timun Emas berjalan menuju ke gubuknya untuk menemui ibunya. Melihat anaknya selamat, Mbok Srini pun langsung berucap syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Sejak itu, Mbok Srini dan Timun Mas hidup berbahagia.
 
Pelajaran yang dapat diambil dari cerita Timun Mas adalah :
1.      Orang yang mempunyai niat jahat terhadap orang lain (raksasa), pada akhirnya akan celaka.
2.    Jika memiliki keinginan, berusahalah dengan keras agar dapat tercapai. Jika kita menghadapi masalah jangan janganlah takut, namun hadapilah masalah dengan berani  karena ada solusi/penyelesaian untuk mengatasi masalah tersebut. . (Mbok Srini dan Timun Mas, berkat usaha dan kerja kerasnya, mereka dapat membinasakan raksasa jahat yang hendak memangsa Timun Mas).


Cerita Malin Kundang (Sumatera Barat)

Konon, di daerah Pantai Air Manis, Padang, Sumatera Barat hiduplah seorang janda bernama Mande Rubayah bersama seorang anak laki-laki bernama Malin Kundang. Sejak kanak-kanak, Ayah Malin Kundang sudah meninggal dunia.
Pada saat Malin menginjak dewasa, ada sebuah kapal besar berlabuh di Pantai Air Manis. Kedatangan kapal tersebut meneguhkan hati Malin untuk pergi merantau.
"Bu, saya ingin pergi mencari kerja merantau ke negeri orang. Belum tentu setahun sekali ada kapal besar merapat di pantai ini. Saya akan mencari kerja agar nasib kita berubah dan terbebas dari kemiskinan”, kata Malin Kundang. Meski dengan berat hati, akhirnya Mande Rubayah pun mengizinkan anaknya pergi.
Hari demi hari berganti, bulan berjalan, dan tahun terlewati, Malin telah pergi meninggalkan kampungnya tanpa pernah memberi kabar kepada ibunya.
Pada suatu hari, sebuah kapal besar berlabuh di pantai Air Manis. Melihat hal itu, Mande Rubayah ikut berdesakan mendekati kapal tersebut. Ia melihat seorang lelaki muda dan sangat yakin bahwa lelaki muda itu adalah Malin Kundang. Tanpa canggung, ia langsung memeluk Malin erat-erat, seolah takut kehilangan anaknya lagi. Lalu ia pun menyapa Malin dengan suara serak, karena menahan tangis bahagia.
"Malin, anakku, mengapa begitu lamanya kau meninggalkan ibu?" Malin terpana karena ia tak percaya bahwa wanita itu adalah ibunya.
Istri Malin yang cantik itu berkata, “Apakah Wanita buruk ini ibumu? Mengapa kau membohongi aku?" Lalu dia berkata lagi. "Bukankah dulu kau katakan ibumu adalah seorang bangsawan sederajat dengan kami?"
Mendengar kata-kata istrinya, Malin Kundang mendorong wanita tua itu hingga terguling ke pasir. Mande Rubayah berkata lagi, "Malin, Malin, anakku. Aku ini ibumu, Nak!" Malin Kundang tidak menghiraukan perkataan ibunya.
"Hai, Perempuan tua! Ibuku tidak sepertimu, engkau tampak sangat miskin dan kotor!" kata si Malin sambil mendorong wanita tua itu hingga terkapar pingsan.
Ketika Mande Rubayah sadar, Pantai Air Manis sudah sepi. Di laut dilihatnya kapal Malin semakin menjauh. Hatinya perih seperti ditusuk-tusuk. Tangannya ditengadahkan ke langit. Ia kemudian berseru, "Ya Allah, Yang Maha Kuasa, kalau dia bukan anakku, aku maafkan perbuatannya tadi. Tapi kalau memang benar dia anakku, Malin Kundang, aku mohon keadilan-Mu."
Tidak lama kemudian, cuaca di tengah laut yang tadinya cerah, mendadak berubah menjadi gelap. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba datanglah badai besar menghantam kapal Malin Kundang. Seketika kapal itu hancur berkeping-keping. Kemudian terempas ombak hingga ke pantai.
Keesokan harinya, di kaki bukit terlihat kepingan kapal yang telah menjadi batu. Itu adalah kapal Malin Kundang. Tak jauh dari batu itu, nampaklah sebongkah batu lainnya yang menyerupai tubuh manusia yaitu Malin Kundang. Anak durhaka itu  terkena kutukan ibunya menjadi batu. Di sela-sela batu tersebut, berenang-renang ikan teri, ikan belanak, dan ikan tenggiri. Konon, ikan-ikan itu berasal dari serpihan tubuh sang istri yang terus mencari Malin Kundang.

     Pelajaran yang dapat diambil dari cerita Malin Kundang adalah :

“    Jangan durhaka kepada Ibunya”. Seorang anak yang durhaka kepada ibu kandungnya, (lebih mencintai harta benda) sehingga ia dikutuk menjadi batu.



Cerita Bawang Putih Bawang Merah (Riau)

Alkisah, ada sebuah keluarga yang hidup bahagia memiliki seorang anak perempuan yang bernama Bawang Putih. Pada suatu hari, ibu Bawang Putih jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Setelah kejadian itu, Bawang Putih hidup dengan ayahnya. Ayah Bawang Putih adalah seorang pedagang yang sering bepergian jauh. Karena tak tega meninggalkan Bawang Putih sendirian dan memiliki teman yang membantunya dirumah, akhirnya ayah Bawang Putih memutuskan menikah lagi dengan seorang janda yang memiliki satu anak bernama Bawang Merah yang tidak lain adalah tetangga mereka sendiri. Tinggalah Bawang Merah dan ibu tirinya itu di rumah mereka.
Bawang Putih adalah gadis sederhana yang rendah hati, tekun, rajin, jujur dan baik hati. Sementara Bawang Merah adalah seorang gadis yang malas, sombong, suka bermewah-mewah, tamak dan pendengki. Sifat buruk Bawang Merah kian menjadi-jadi akibat ibunya selalu memanjakannya. Ibunya selalu memenuhi semua permintaan dan tuntutan Bawang Merah. Selain itu semua pekerjaan di rumah selalu dilimpahkan kepada Bawang Putih. Bawang Putih tidak pernah mengeluh nasib buruk yang harus dia hadapi. Dia selalu melayani ibu tiri dan saudara perempuannya dengan gembira.
Mereka bersikap baik pada Bawang Putih hanya ketika ayahnya ada bersamanya. Namun ketika ayahnya pergi berdagang, mereka menyuruh Bawang Putih mengerjakan segala pekerjaan rumah seperti seorang pembantu. Situasi semakin buruk ketika ayahnya jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Bawang Putih merasa semakin tersiksa sejak ayahnya meninggal. Badannya menjadi kurus dan matanya semakin sayu. Ia sangat merindukan kehidupan sebelumnya yang sangat berbahagia bersama ibu dan ayah kandungnya.
Suatu hari di pagi yang cerah, Bawang Putih pergi mencuci baju ibu dan saudara tirinya di sungai. Betapa sedih hati Bawang Putih ketika menyadari bahwa selembar kain milik ibunya hanyut oleh aliran sungai. Dia berpikir jika kain itu tidak dapat ditemukan, maka dia disalahkan dan akan dihukum dan diusir dari rumah.
Karena takut kain ibunya tidak bisa ditemukan, Bawang Putih terus mencari dan berjalan di sepanjang sungai. Setiap kali dia melihat seseorang di tepi sungai, dia selalu bertanya tentang pakaian ibunya yang hanyut di sungai, tetapi semua orang tidak tahu di mana kain itu. Tibalah Bawang Putih di suatu tempat di mana sungai mengalir ke sebuah gua. Di dalam gua itu ada seorang nenek yang sangat tua. Bawang Putih bertanya pada nenek itu jika dia tahu keberadaan kain milik ibunya.
Nenek itu tahu di mana kain milik ibu Bawang Putih, tetapi dia memberi syarat sebelum menyerahkannya ke Bawang Putih bahwa dia harus bekerja membantu nenek. Bawang Putih menyanggupi syarat tersebut karena ia sudah terbiasa bekerja keras. Semua pekerjaan yang diperintahkan nenek itu dapat dilaksanakan dan nenek merasa senang dan puas.
Hari menjelang sore, Nenek menyerahkan kain yang dicari Bawang Putih. Karena kebaikannya, nenek itu menawarkannya hadiah labu. Ada dua buah labu, yang satu lebih besar dari yang lain. Bawang Putih diminta untuk memilih hadiah yang diinginkannya. Karena Bawang Putih tidak serakah, maka dia memilih yang lebih kecil lalu ia bergegas pulang.
Ibu tiri dan Bawang Merah sangat marah karena Bawang Putih terlambat pulang. Bawang putih menceritkan peristiwa yang dialami hari ini. Masih dalam keadaan marah Ibu tiri membanting labu itu ke tanah  karena Bawang Putih terlambat dan hanya membawa satu labu kecil.
Labu itu pecah, anehnya saat labu itu pecah ada perhiasan emas yang indah dan berkilauan keluar dari labu itu. Ibu tiri dan Bawang Merah sangat terkejut. Karena mereka serakah, mereka berteriak pada Bawang Putih dan membentak kenapa Bawang Putih tidak mengambil labu yang besar. Dalam pikiran Bawang Merah dan Ibunya, jika labu yang lebih besar diambil, mereka pasti mendapatkan lebih banyak perhiasan dan akan menjadi kaya.
Karena sifat serakah itu, Bawang Merah mengikuti peristiwa yang diceritakan oleh Bawang Putih. Dia menghanyutkan kain ibunya, berjalan di sepanjang sungai, bertanya pada orang-orang dan akhirnya datang ke gua tempat nenek itu tinggal. Tidak seperti Bawang Putih, Bawang Merah menolak perintah nenek itu untuk bekerja dan ia bahkan dengan sombong memerintahkan nenek itu untuk memberinya labu yang lebih besar. Nenek itu memenuhi permintaan Bawang Merah memberikan labu yang besar untuk Bawang Merah.
Bawang Merah dengan senang hati membawa labu yang diberikan nenek itu, sambil membayangkan berapa banyak perhiasan yang akan ia dapatkan. Setibanya di rumah, sang Ibu menyambut putri kesayangannya. Tidak lama setelah itu, labunya dihancurkan ke tanah, tetapi alih-alih mendapatkan perhiasan, berbagai ular dan binatang berbisa yang menakutkan keluar dari dalam labu tersebut. Bawang Merah dan Ibunya akhirnya menyesal dan menyadari apa yang telah mereka lakukan selama ini. Mereka meminta maaf atas semua perbuatan yang telah dilakukan kepada Bawang Putih    .

       Pelajaran yang dapat diambil dari Cerita Bawang Putih dan Bawang Merah adalah
1   .      Jadilah anak yang rajin dan suka bekerja maka orang lain akan menyukaimu.
2  .      Sifat serakah tidak kan membuat bahagia dan mendapat petaka, bersyukurlah atas nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepada diri kita.
3   .      Jadilah anak untuk selalu jujur, rendah hati dan sabar dalam menghadapi setiap masalah.

   
     SUMBER :


KEONG MAS (JAWA TIMUR)

Dahulu kala, ada sebuah kerajaan yang sangat indah dan megah bernama  kerajaan Daha yang dipimpin seoarang Raja bernama Kertamarta. Raja Kertamarta mempunyai dua orang Putri yang cantik yaitu Dewi Galuh dan Candra Kirana. Kehidupan mereka sangat bahagia dan berkecukupan.
Pada suatu hari, datanglah seorang Pangeran tampan dari kerajaan Kahuripan bernama Raden Inu Kertapati. Maksud kedatangan Pangeran untuk melamar putri Candra Kirana. Raja Kertamarta menyambut kedatangan pangeran ersebut dengan baik. Putri Candra Kirana pun menerima lamaran Pangeran Raden Inu Kertapati.
Pertunangan itu membuat Dewi Galuh merasa iri. Ia menaruh hati pada Raden Inu Kertapati dan merasa dirinyalah yang lebih cocok menjadi tunangannya. Perasaan iri ini berkembang menjadi perasaan benci. Dewi Galuh merencanakan untuk menyingkirkan Candra Kirana dari kerajaan.
Suatu hari, secara diam-diam Putri Dewi Galuh pergi menemui sorang penyihir jahat. Ia meminta bantuan kepada Penyihir untuk menyihir Candra Kiran menjadi sesuatu yang menjijikan sehingga Pangeran menjauhinya danIa pun berharap menjadi pengganti Candra Kirana sebagai tunangannya.
Penyihir itu menyetujui permintaan Dewi Galuh. Namun, Penyihir tidak dapat masuk istana karena dapat menimbulkan sebuah kecurigaan. Dewi Galuh mempunyai siasat untuk memfitnah Candra Kirana, sehingga ia di usir dari kerajaan. Candra Kirana meninggalkan kerajaan dengan perasaan sedih. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan penyihir jahat dan menyihir Candra Kirana menjadi Keong Mas. Setelah berhasil menyihir Candra Kirana, penyihir langsung membuangnya ke sungai.
‘’Kutukanmu akan hilang, jika kamu dapat bertemu dengan tunanganmu Pangeran Raden Inu.’’ Ujar Penyihir.
Suatu hari, ada seorang Nenek yang mencari ikan dengan menggunakan jala di sungai. Keong Mas ikut tersangkut oleh jala tersebut. Melihat betapa indahnya Keong Mas yang ia dapatkan, Si Nenek langsung membawanya pulang dan di simpannya Keong Mas itu di tempayan. Nenek tersebut memelihara Keong Mas dengan baik dan memberikan makan, agar tidak mati.
Keesokan harinya, sang Nenek kembali ke sungai untuk mencari Ikan. Hari itu tidak satu pun ikan yang ia dapatkan. Karena sudah terlalu lama menjala tapi tidak mendapatkan hasil, Ia pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah.
Sesampainya Nenek di rumah, Ia sangat terkejut karena melihat makanan yang sangat enak sudah tersedia di atas mejanya. Ia merasa sangat heran dan bertanya-tanya siapa yang sudah membuatkan makanan ini. Kejadian tersebut berulang setiap hari. Karena penasaran, suatu hari Sang Nenek pura-pura pergi ke sungai. Ia ingin tahu dan mengintip siapa yang sudah membuatkan makanan setiap hari.
Pada saat mengintip dari celah bambu di rumahnya, Sang nenek terkejut ketika melihat Keong Mas yang ia simpan di tempayan berubah menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Gadis cantik tersebut langsung menyiapkan makanan di atas meja.
Sang Nenek langsung menghampiri Gadis cantik tersebut. “ Siapa kamu Putri yang cantik? Dan dari manakah asalmu?” Tanya Sang Nenek.
Keong Mas yang berubah menjadi wujud aslinya yaitu Candra Kirana. Sangat terkejut melihat kedatangan Sang Nenek yang tiba-tiba. Akhirnya, Candra Kirana menjelaskan siapa ia sebenarnya. Dan menceritakan kenapa ia berubah menjadi Keong Mas. Setelah menjelaskan kepada Sang Nenek, Candra Kirana pun kembali berubah wujud menjadi Keong Mas.
Sementara itu, Pangeran Raden Inu terus mencari Putri Candra Kirana yang mendadak hilang entah kemana. Kabar dari Candra Kirana pun tidak ia dapatkan. Pangeran Inu kertapati sangat yakin bahwa Candra Kirana masih hidup. karena kenyakinan itu membuat Raden Inu tidak berhenti mencari. Ia pun berjanji, tidak akan kembali ke kerajaan sebelum menemukan tunangannya Candra Kirana.
Akhirnya, Penyihir jahat mengetahui bahwa Pangeran Inu sedang mencari Candra Kirana. Ia mencari cara agar Pangeran tidak dapat menemukan Candra Kirana. Ia pun menyamar menjadi seekor Burung Gagak.
Di tengah perjalanan, Raden Inu di kejutkan oleh Burung Gagak yang dapat bicara. Burung Gagak tersebut mengetahui tujuannya. Pangeran yang merasa senang dan menganggap Burung tersbut tahu dimana keberadaan candra Kirana. Ia pun mengiikuti petunjuk yang di berikan Burung Gagak. Padahal petunjuk jalan tersebut salah.
Pangeran Inu mulai kebingungan dengan petunjuk yang diberikan Burung Gagak. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang Kakek tua yang sedang kelaparan dan ia memberikan makanan kepada kakek itu. Ternyata, Kakek tersebut adalah seorang Kakek yang sakti dan menolong Raden Inu dari Burung Gagak. Kakek memukul Burung Gagak dengan tongkatnya dan tiba-tiba burung Gagak berubah menjadi asap.
Kakek tersebut memberikan petunjuk jalan. Pangeran Inu Kertapati segera menuju Desa Dadapan. Berhari-hari, ia menempuh perjalanan. Di tengah perjalanan bekalnya telah habis. Ia merasa sangat kehausan. ia pun melihat sebuah Rumah dan segera menuju ke rumah tersebut. Ia berniat untuk meminta segelas air. Namun, bukannya hanya air yang ia dapatkan. Tetapi candra Kira yang ia cari. Ia melihat tunangannya dari jendela sedang memasak.
Akhirnya, Pangeran Inu dapat menemukan Candra Kirana. Ia merasa sangat senang. Begitu pula dengan Candra Kirana yang berhasil menghilangkan kutukannya, apabila bertemu dengan tunangannya. Candra Kirana menjadi gadis cantik jelita.
Raden Inu Kertapti segera membawa Candra Kirana ke kerajaan Daha. Ia pun mengajak Nenek yang sudah menolongnya. Candra Kirana pun menjelaskan perbuatan Dewi Galuh selama ini kepada Baginda Raja. Akhirnya, kejahatan Dewi Galuh terbongkar.
Dewi Galuh mendapat hukuman atas perbuatannya itu. Namun, karena aerasa takut akan hukuman. ia melarikan diri ke hutan. Sementara Baginda minta maaf kepada Candra.
Akhirnya, Pangeran Raden Inu dan Candra Kirana memutuskan untuk menikah. Mereka hidup behagia.

    Pelajaran yang dapat diambil dari Cerita Keong Mas adalah sebaik-baiknya menutupi kejahatan, suatu saat akan terbongkar juga. Selalu berbuat baik dan jauhkan diri dari iri dengki maka akan selamat dalam menjalani kehidupan.
   
      SUMBER : https://dongengceritarakyat.com/cerita-rakyat-indonesia-dongeng-keong-mas/